>PROFIL NABI MUHAMMAD SAW dan METODE DA’WAHNYA

>

PROFIL NABI MUHAMMAD SAW

Profil adalah memandang sesuatu dari satu sisi, lalu mengambarkan bagaimana keadaannya. Bila dikaitkan dengan penelitian ini, maka yang menjadi objeknya adalah Nabi Muhammad SAW, sedangkan sisi yang dipandang kemudian mengambarkan keoratorannya
Dalam membahas seputar profil Nabi Muhammad SAW sebagai orator, penulis akan membatasi penulisannya dengan tiga poin saja , yaitu kepribadian nabi Muhammad SAW sebagai orator, materi dan metode dakwah Nabi dan audiennya.

A. Kepribadian nabi Muhammad SAW sebagai Orator
Kepribadian adalah sifat hakiki yang tercermin pada diri seseorang yang membedakannya denga orang lain. lebih lanjut Sigmund Freud berpendapat bahwa yang dikatakan dengan kepribadian adalah integritas (perpaduan) antara the id (unsur biologis), the ego (unsur kejiwaan), unsur sosiologis (tingkah laku).
Dari kedua pendapat tersebut dapat diambil sebuah pengertian bahwa yang dimaksud dengan kepribadian adalah merupakan sifat hakiki seseorang yang lahir dari hasil perpaduan antara unsur biologis, unsur psikis (hati), dan unsur sosiologis (tingkah laku) dalam kehidupan sehari-hari yang membedakannya dengan orang lain,. Meskipun pendapat ini memiliki korelasi dengan istilah orator. Namun jika dicoba menghubungkannya, maka dapat diktakan bahwa sebagai orator tidak akan terlepas dari keiga unsur tersebut, yang merupakan ktiteria seseorang dalam menilai orang lain. Contohnya Ir Soekarno dikatakan sebagai seorang orator karena melihat kepada unsur-unsur tersebut diatas, seperti bagaimana wibawanya, pemikirannya, penampilannya ketika berbicara atau dalam menyampaikan pidatonya, jika seseorang melihat kepada hal tersebut, maka dapat dikelompokkan bahwa : wibawa merupakan unsur sosiologisnya, pemikiran merupakan unsur psikisnya, penampilan merupakan unsur biologisnya.
Bila dihubungkan dengan objek pembahasan dalam penelitian ini, maka kriteria yang dipakai dalam mengambarkan kepribadian Rasulullah SAW, juga tidak terlepas dari ketiga hal tersebut, namun disini penulis tidak akan menguraikan ketiga unusur tersebut diatas secara rinci, tetapi hanya menguraikannya secara umum saja tentunya yang berkaitan erat dengan aktivitasnya sebagai orator. Bentuk-bentuk kepribadian Nabi Muhammad SAW, penulis ambil berdasarkan analisa terhadap buku karangan Mustaf Ali Ya’kub dan Dr. Ahmad Mubarak, dalam bukunya yang berbeda. Diantara bentuk keprbadian Nabi Muhammad SAW sebagai orator adalah :
1. Tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan
Keoratoran rasulullah SAW baik sebagai pendakwah maupun sebagi pemimpin tidak pernah memisahkan antara apa yang beliau ucapankan dengan apa yang beliau perbuat. Artinya apa yang beliau sampaikan terlebih dahulu beliau kerjakan dan sebaliknya. Setiap yang dikatakan dan dikerjakan Nabi adalah dakwah. Jadi pidato Nabi berbeda sekali dengan pidato yang sekarang ini, perbedaan ini dapat dimaklumi karena pengaruh situasi, da kondisi serta keberadaan orang yang menyampaikan, apalagi jika dilihat dari isi dan tujuan pidato yang disampaikan.
Kepribadian yang pertama ini merupakan keharusan bagi Rasulullah SAW, tanpa hal tersebut keberhasilannya sebagai orator sekaligus pendakwah tidak terwujud. Bahkan Allah SWT telah mengancam orang-orang yang hanya pandai beretorika saja tetapi tidak mengamalkannya.
Firman Allah dalam surat Asshafat ayat 2dan 3
Artinya : “Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat),
Dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,”
Bila dikaitkan dengan unsur kepribadian maka ciri pertama ini merupakan bagian dari unsur kejiwaan (psikis) dan unsur tingkah laku (sosiologis).
2. Pemberani
Dalam tingkatan tertentu seorang adalah pemimpin masyarakat, kapasitas kepemimpinan seorang orator bisa jadi dalam satu bidangnya, tetapi lainnya dengan diri Rasulullah SAW. kapasitas kepemimpinannya mencakupi kesemua bidang kenegaraan, pendidikan dan militer maupun dibidang agama. Salah satu kepribadian Rasulullah SAW.dalam bidang tersebut adalah keberanian.
Secara psikologis semua manusia memang tertarik kepada keberanian, keberanian dalam hal ini jelas berbeda dengan keberanian seseorang dalam pertandingan. Misalnya keberanian seorang pembalab hanya semata-mata hanya untuk meraih kemenangan dan mengganggap lemah lawan, sementara keberanian Rasulullah SAW. terutama dalam bidang keoratorannya semata-mata hanya karena kebenaran

Firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 39 :
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan”

Disamping itu Rasulullah SAW.juga memerintahkan untuk bersikap berani, sebagaimana sabdanya yang berbunyi :
قُلِ الْحَقُّ وَلَوْكَانَ مُرًّا (رواه ابن حبان)
Artinya : “Katakanlah yang benar itu walaupun pahit”(H.R. Ibnu Hibban)

Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari Umar R.A.berkata ;
مَارَاَيْتَ اَحَدً اَسْجَعَ وَلاَ اَنْجِدَ وَلاَ اَجْوَدَمِنْ رَّسُوْلُ اللهِ
Artinya : “saya belum pernah melihat seseorang yag lebih berani dan lebih tabah hati serta pemurah selain Rasulllah SAW. (H.R. Ad-Darimi).
Keberanian Rasulullah SAW.sebagai seorang orator dalam menyampaikan risalah Islam tidak pernah surut, meskipun nyawa taruhannya. Jangankan berbicara dihadapan orang banyak, memimpin pasukan dalam setiap perperanganpun beliau tidak pernah gentar.
3. Kebenaran isi penyampaiannya
Sebagai azas dasar kebenaran yang disampaikan Rasulullah SAW adalah firman Allah SWT.
Firman Allah dala surat An-Najmi ayat 2
Artinya : “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.

Semenjak dari kecil Rasulullah SAW.terkenal dengan kejujurannya hingga beliau digelari Al-Amin (orang yang terpercaya) yang tak pernah yang tidak pernah berbohong meskipun dalam bentuk bergurau. Setelah beliau diangkat jadi Rasul, Abu Jahal sangat memusuhi beliau, ada pada suatu saat karena yakin dengan Rasulullah SAW bukan seorang pendusta, Ia berkata kepada Rasulllah SAW. “ sesungguhnya kami tidak mendustakan enkau, tetapi kami apa-apa yang engkau bawa.”
Kebenaran isi penyampaian beliau sebagai orator, merupakan suatu keharusan beliau karena ucapannya akan menjadi pegangan bagi umatnya dikemudian hari dengan kebenaran isi penyampaian beliau itu, telah menambah kharisma beliau sebagi pendakwah atau orator, yang selalu membuat orang terdiam mendengarkan apa yang beliau sampaikan.

4. Pasih lidahnya
Sebagaimana yang dijelaskan pada pembahasan terdahulu, salah satu syarat pidato yang baik adalah harus memiliki lidah yang pasih. Maka Rasulullah SAW.sebagai seorang pendakwah atau orator juga diberi oleh Allah SWT.kepasihan lidah, melebihi pasihnya lidah orang Arab.
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ اَفْصَحَ العَوْبِ وَكَانَ يَتَقَلَّمَ بِاالْكَلَّمِ لاَيَدْعُوْنَ مَاهُوَحَتَّى يَخْبَدَ هُمْ (رواه ابن حسن ادحاء)
Artinya : “ Kepasihan lidah Rasulullah SAW. adalah kepasihannya lidah orang Arab dalam berbicara, beliau berbicara dengan mereka apa artinya pertanyaannya itu, sehingga beliaulah yang menjelaskan kepada mereka itu. (H.R. Abu Hasan Ad Dahak).
Abu Bakar membenarkan bahwa Rasulullah memiliki lidah yang fasih, sebagaimana ungkapannya : “ Saya telah mengelilingi tanah Arab dan saya telah mendengar orang-orang yang pasih berbicara diantara , tetapi belum pernah saya mendengar orang yang lebih pasih dari pada enkau (Muhammad). Kepasihan lidah beliau bukan berarti beliau berbicara dengan cepat tetapi jelas, melainkan kepasihan tersebut memiliki ciri sebagai berikut :
a. Ucapannya terang dan jelas sehingga orang yang mendengarnya paham akan apa yang disampaikannya.
b. Suaranya teratur dan perlahan-perlahan hingga apa yang disampaikan beliau bisa dihafal oleh pedengarnya, jika ucapan itu penting beliau mengulangnya sampai tiga kali atau lebih.
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَعِيْدَ الْكَلَمَةَ ثَلاَثًا لِتَعْقَلَ عَنْهَ (رواه احمد)
Artinya : “ Rasulullah SAW.mengulang-ngulang tutur kataya sampai tiga kali agar diperhatikan oleh pendengarnya. (H.R. Ahmad).
c. Ucapan beliau tidak pernah mubazir atau mengambang dari pokok persoalan dan lebih banyak diam dan hanya berbicara bila diperlukan saja, sehingga para pendengar tidak pernah bosan mendengarkan apa yang disampaikan beliau.
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ طَوِيْلَ السَّكْتِ لاَيَتَكَلَّمَ فِىغَيْرِ حَاجَةِ
Artinya : “ Rasulullah SAW.itu seorang pendiam, beliau tidak berbicara yang mubazir. (H.R. At-Tarmizi).
d. Kalimat yang diucapakannya ringkas, tetapi berarti luas, sebab Allah SWT telah menganugrahkan hikmah yang dalam kepada beliau, hingga diakui oleh sejarah. Bahwa tidak ada perkatan yang paling indah dan dalam maknanya setelah Al-Quran, selain dari perkatan Rasulullah SAW.
Sabda rasulullah SAW.
Artinya : “ Aku diberi kalimat-kalimat yang ringkas, berarti luas (H.R. Abu Daud).
Beliau tidak saja pasih dalam bahasa Arab daerah lain yang sesuai dengan logat mereka masing-masing. Karena begitu luasnya ucapan yang disampaikan beliau hingga melahirkan beberapa kitab tafsir mengenai hadis beliau.
5. Tawaddu’ (rendah hati)
Dibalik semua ciri kepribadian beliau tersebut diatas erat hubungannya dengan akivitasnya sebagai orator, beliau juga mempunyai sifat yang mulia sekaligus menjadi kepribadian bagi beliau yaitu tawaddu’ dengan jiwa ketawaddu’annya itulah orang semakin simpatik dengannya, sifat arogan, sombong, melecehkan orang lain, atau menghina orang lain sangat jauh dari diri beliau. Bahkan ketika beliau disanjung-sanjung oleh umatnya, beliau melarang. Tidak itu saja , ketika beliau datang kepada suatu majlis kemudian para sahabat menyambutnya berdiri, beliau juga menolaknya. Dan dalam suatu majlis beliau tidak pernah menonjol duduknya dari para sahabatnya, dan selalu duduk bersama-sama dengan para sahabat.
كَانَ رَسُوْلِ اللهِ يَجْلِسُ مَعَنَا (نَحْنُ مِنْ فَقِيُ وَعَبْدِي)
Artinya : “ Rasulullah SAW.duduk bersama kami yakni orang-orang miskin dan hamba sahya. (H.R. Ibnu Majjah).
Dikisahkan ketika seorang sahabat menghadiri majlis Rasulullah SAW. Orang tersebut tidak tahu dimana duduk RasulullahSAW.hingga bertanya kepada para sahabat tetang keberadaan Rasulullah dan para sahabat memberitahunya.
6. Cerdas (sempurna akal pikirannya)
Cerdas merupakan salah satu sifat yang wajib bagi Rasul, terutama Nabi Muhammad SAW.sebagaimana kita ketahui kecerdasan merupakan modal dasar bagi seseorang bila ingin menjadi pembicara hebat. Kecerdasan lebih banyak dititik beratkan kepada materi yang disampaikan.
Rasulullah SAW telah dikaruniai oleh Allah SWT. berupa kecerdasan akal,hingga ia mudah menerima pelajaran (wahyu) dari Allah SWT sebagai bahan pidatonya untuk disampaikan kepada umatnya. Kesempurnaan akal Rasulullah SAW tidak hanya terkait dengan masalah ukhrawi saja, namun tentang masalah keduniaan juga mengetahui. Bila beliau dihadapkan dengan masalah yang rumit berkenaan dengan hukum syari’at beliau selalu mendapat pertolongan dari AllahSWT.
Untuk mengimbangi kecerdasan beliau sebagai orator, orang yang mengerti bahasa Arab cukup memperhatikan dan menganalisa perkataan beliau yang ringkas tetapi memiliki makna dan kandungan yang dalam, hal ini masih tercatat dalam kitab sunnah.

B. Materi dan Metode dakwah Rasulullah SAW.
a. Materi dakwah Rasulullah SAW.
Pada dasarnya antara materi dan metode tidak bisa dipisahkan dalam penerapan, sebab materi adalah pesan yang akan diasmpaikan sedangkan metode adalah cara atau langkah yang digunakan dalam menyampaikan pesan dakwah tersebut kepada pendengar. Berhasil atau tidaknya materi dakwah yang disampaikan sangat tergantung kepada metode dakwah yang digunakan. Membahas tentang materi dan metode dakwah Rasulullah SAW merupakan pembahasan yang panjang, namun disini penlis akan mencoba membahasnya secara umum saja dengan menguraikan hal-hal yang terpenting dari yang lain. Selama lebih kurang 23 tahun Rasulullah SAW mengembangkan dakwahnya, baik pada periode makkah maupun madinah, tentu banyak sekali materi dan metode dakwah yang telah dipergunakan oleh Rasulullah SAW.
Materi dakwah Rasulullah SAW secara pasti tentu tercakup dalam Al-Quran dan sunnah beliau, Al-Quran adalah materi dasar dari dakwah beliau. mulai sejak turunnya wahyu pertama di goa Hira hingga Allah SWT.sendiri yang menyatakan kesempurnaannya ketika beliau mengerjakan haji wada’ di padang Arafah
Firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 3.
Artinya : “ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
sesungguhnya Al-Quran merupakan sebuah kitab yang sempurna dalam materi materinya, sedangkan materinya lebih luas ketimbang ilmu yang ada, karena manusia itu sendiri yang menggungkap ilmu pengetahuan dan mengambil manfaat darinya dengan melakukan pengkajian-pengkajian, eskperimen, praktek-praktek sesuai dengan kemampuan akal manusia.
Sebenarnya materi dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bukanlah kehendak atau kemauan beliau saja, tetapi beliau hanya menyampaikan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah SWT kepadanya. Untuk lebih jelasnya materi dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW ditinjau dari metode penyampaiannya.
1. Periode dakwah di Makkah (610-622 M)
Menurut Syaikh Syafiyyur Rahman Al Mubarak Fry materi dakwah yang mula-mula disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah menyangkut masalah Akidah (tauhid atau mengesakan Allah SWT), iman kepada hari akhir dan lain-lain yang berkenaan dengan penyucian jiwa. Suatu perjuangan yang melelahkan Rasulullah SAW dalam hal menyampaikan materi dakwah kepada Ummul Qura (penduduk Makkah), karena dakwah yang beliau sampaikan tidak mendapat respon dari umatnya kecuali sebagian kecil yang menerima ajakan beliau dan mempercayai apa yang disampaikannya. Dapat dikatakan bahwa materi yang disampaikan Rasulullah SAW pada periode Makkah tidaklah banyak, secara garis besarnya adalah menitik beratkan pada masalah iman dan hal-hal yang berhubungan dengan masalah ibadah dan Akhlak.
Berdasarkan kontek ayat yang diturunkan kebanyakkan diwali dengan “Ya ayyuhannas” yang menunjukan bahwa metode yang pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah dengan lisan dalam bentuk ceramah (pidato) yang disampaikan dengan penuh bijaksana.
2. Periode dakwah di Madinah ( 622-632 M)
Adapun materi dakwah yng disampaikan oleh Rasulullah SAW di Madinah disamping materi dakwah yang telah ada yang telah disampaikan di Makkah di tambah lagi dengan materi yang lebih komplek dan mencakup semua semua aktivitas kehidupan, baik kehidupan secara individu, keluarga, masyarakat bahkan sampai kepada permasalahn kenegaraan, dimana basis utamanya adalah membentuk masyarakat dengan system pemerintahan Islami.
Bagi orang-orang yang mengerti dengan Islam ia akan menemukan bermacam materi dakwah Rasulullah SAW yang sesuai denga situasi dan kondisi. Prof. Dr. Muhammad Mustafa Atha dalam bukunya ‘Dakwatu Takririyatil kubra’ telah mencoba menyimpulkan materi dakwah Rasulullah SAW.
a. Materi yang berkaitan dengan masalah tauhid yang membicarakan seputar Rukun iman, dan penjelasan mengenai hal-hal yang ghaib seperti malaikat, syaitan, jin dan lain sebagainya.
b. Materi yang berkaiatan dengan ibadah sebagai realisasi dari materi dakwah yang pertama, ibadah yang dimaksudkan secara umum telah mencakup dalam rukun Islam dengan semua aktifitas kehidupan sehari-hari yang dilakukan semata-mata untuk mengharap ridho Allah SWT.
c. Materi yang berkaitan dengan persoalan sejarah yang terjadi pada masa yang lampau seperti kisah orang-orang saleh, kisah para nabi dan rasul.
d. Materi yang berkaitan dengan masalah muamalah.
e. Materi yang berkaitan dengan akhlak.
f. Materi yang berkaitan dengan hukum, yang berkenaan dengan aktifitas sehari-hari
g. Materi yang berhubungan dengan janji (wa’ad) dan ancaman (wa’id)
b. Metode dakwah Rasulullah SAW.
Pada intinya metode dakwah yang disampaiakan oleh Rasulullah SAW. Tidak jauh berbeda dengan metode dakwah yang berkembang pada saat ini, hanya saja karna pengaruh media-media dakwah itu seolah-olah berubah disamping itu bedanya juga terlihat pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
Metode dakwah yang dipergunakan oleh Rasulullah SAW tidak terlepas dari bimbingan wahyu yang disampaikan kepadanya. Pada tahap awalnya metode yang dipergunakan oleh Rasulullah dakwah sirryah (sembunyi-sembunyi) habis metode ini dilanjutakan dengan metode dakwah jahriyah (terang-terangan), cara ini dapat digolongkan pada beberapa bagian yaitu : pidato umum (khutbah, ceramah dan lain-lain), diskusi ( hal ini biasanya berupa dialog atau perdebatan).
Ada pula metode lain yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam berdakwah yaitu metode tanya jawab. Pada saat-saat tertentu Rasulullah SAW juga menggunakan metode peragaan atau praktek lansung, seperti masalah sholat, haji, zakat, dan lain-lainnya. Bila ditinjau dari materi dakwah yang disampaikan, maka metode dakwah Rasulullah SAW berbentuk tabsyir dan tandzir, sedangkan bila ditinjau dari segi subjek dan objeknya maka metode dakwah Rasulullah SAW terbagi pada tiga bagian. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat An-Nahl ayat 125
Artinya : ” Serulah (manusia) kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesengguhnya Tuhanmu Dialah yang maha tahu tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petuntuk.”
• Metode yang pertama Hikmah, yang ditujukan kepada orang yang memiliki pemahan yang tinggi sepert tokoh-tokoh Yahudi, Nasrani maumpun para bangsawan,
• Metode yang kedua iyalah dengan memberi perlajaran yang baik, yang ditujukan pada orang-orang yang awam serta yang rendah tingkat pemahamannya. Saperti memberikan cerita Nabi atau orang shaleh.
• Metode yang ketiga yaitu dengan cara berdiskusi , ditujukan pada orang-orang yang tingkat pemahamannya sedang-sedang saja, yang mana rasa ingin tahunya cukup tinggi biasanya mereka suka mempertanyakan sampai mereka paham dari yang mereka pertanyakan, sehingga tidak ada keragu-raguan lagi .

C. Audien Rasulullah Saw
Audien (pendengar atau lawan bicara) adalah objek atau sasaran dakwah Rasulullah SAW yakninya masyarakat Arab. Dalam menjelaskan audien Rasulullah SAW penulis akan membaginya dalam dua kelompok besar. Yang pertama audien yang berada di Mekkah dan yang kedua adalah audien yang berada di Madinah , sebab di kedua wilayah inilah pusat dari pegerakan dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW. Sebelum penulis menjelas bagaimana keadaan kedua masyarakat tersebut, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan terlebih dahulu tentang kondisi jazirah Arab sebelum diutusnya Rasulullah SAW sebagai pendakwah.
Sebelum agama Islam di kembangkan di jazirah Arab, kondisi kehidupan masyarakatnya secara umum di kenal dengan sebutan masyaraklat Jahiliyah. Pengertian jahiliyah secara bahasa berasal dai bahasa Arab yang akar katanya jahila (jahila- yujahilu- jahlan) yang artinya bodoh. Sedangkan arti jahiliyah secara luas, manurut sayyid Muhammad khutub kata jahiliyah sinonim dengan kata laa ya’lamun (tidak mengetahui). Jahiliyah Arab artinya ; masa kebodohan bangsa Arab, jahiliyah menurutnya tidak saja terbatas pada penyembahan patung, mengubur anak perempuan hidup-hidup, minum arak, main judi dan lain sebagainya ini hanyalah bentuk luar dari jahiliyahnya, bisa jadi bentuk luar dari jahiliyah tersebut berbeda dengan daerah lain. Namun jahiliyah itu sebenarnya adalah tidak mengetahui hakekat Tuhan dan mengikuti apa yang tidak di perintahkan Tuhan ( Allah SWT) masa atau zaman itu disebut adz-dzulumat, disebut demikian karena kondisi social, politik, dan kehidupan spiritualnya dalam waktu yang cukup lama ( 600 th) sesudah kerasulan Nabi Isa AS, Serta tidak memiliki Nabi dan kitab suci, ideology agama dan tokoh besar yang membimbing, tidak memiliki pemerintahan dan hukum yang ideal serta tidak memiliki nilai-nilai moral dan jauh dari nur Ilahi. mereka terpecah belah dalam bentuk suku-suku dan saling bermusuhan.
Secara geografis jazirah Arab merupakan wilayah gurun padang pasir yang gersang. Yang hanya mengenal dua musim saja, yaitu musim panas dan musim dingin, sehingga pengaruh lingkungan masyarakat memiliki karakter tertentu seperti memiliki tubuh yang tinggi dan besar, suka mengembara berwatak keras dan menyukai kebebasaan. Umumnya mata pencaharian mereka berdagang dan yang paling banyak ialah sebagai peternak dan sebagian ada yang bertani terutama bagi yang tinggal didaerah lembah atau genangan air.
Dari segi kebudayaan, masyarakat Arab terkenal dengan kemahirannya dalam bidang bahasa dan syair (sastra). Muncul semangat mereka untuk memperdalam ilmu bahasa, karena kebiasaan mereka untuk mempertandingkan kemampuan mereka dalam bersyair. Bagi yang menang akan mendapat hadiah serta mandapat penghargaan dengan di tempelkannya tulisan syairnya ditempat terhormat (Ka’bah). Dari segi peradapan mereka menguasai ilmu perbintangan dan ilmu falak, disamping itu arsitektur bangunan terutama didaerah Yaman.
Keragaman mereka lebih dominan menjadi penyembah patung yang merupakan tradisi nenek moyang mereka disampaing itu juga ada yang menganut agama samawi ( Yahudi dan Nasrani).
Selanjutnya dimasa Rasulullah SAW adalah masa perkembangan kehidupan masyarakat Arab. Karena pertambahan jumlah mereka sehingga terentuklah sebuah kota, kota yang penulis maksud disini adalah kelompok basar yang terdiri dari berbagai suku yang hidup secara berkelompok-kelompok berdasarkan sukunya. Dalam hal ini kota yang menjadi audien Rasulullah SAW adalah Mekkah dan Yastrib (Madinah). Adapun keadaan dari audien Rasulullah SAW pada masyarakat tersebut ialah :
1. Audien Makkah
Makkah yang dalam perkembangannya telah menjadi lalu lintas perdagangan internasianal karena letaknya yang strategis dari Arabia selatan ke Arabia utara dan mediterenian, Teluk Persia, laut Merah semua melalui Jeddah dan Afrika.
Makkah yang waktu itu di kuasai oleh suku Quraiys. Sebenarnya kelebihan kota makkah itu dengan kota-kota yang lainya adalah karena makkah sangat sarat sekali dengan nilai-nilai sejarah, terutama yang berupa peninggalan nenek moyang mereka ( Nabi Ibrahim. A.S.) yaitu Baitullah serta sumber air yang tak pernah kering yaitu telaga Zam-zam.
Walaupun masyarakat makkah maju dalam perdangan dasn pertanian, namun system kehidupan social mereka sangat kacau. karena garis keturunan mereka adalah patrilineal (pihak bapak), maka mereka telah menghinakan keturunan perempuan mengalami nasib yan malang, kaum perempuan tidak pernah mendapat harta wrisan dan mereka diperlakukkan seperti harta mainan bahkan lebih lagi dari pada perlakuan pada binatang. Apabila istri mereka melahirkan anak perempuan mereka merasa malu dan marah sekali, serta lansung mengubur bayinya tersebut hidup-hidup.
Firman Allah dalam surat An-Anhl ayat 58-59
Artinya : “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.-
Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”
Disamping itu system perbudakan berlaku dikalangan mereka, budak juga doperlakukan dengan kejam tanpa sedikitpun merasa kasihan, bila budak itu perempuan mereka zinahi sesuka hatinya, kalau sudah bosan maka akan dipergilirkan serta diperjual belikan dengan harga yang murah. Lebih dari itu yang kaya memperalat yang miskin, yang kuat memperbudak yang lemah, dan bagi mereka merupakan sebuah kebanggaan.
Karena rasa kesukuan yang tinggi menyebabkan sering terjadi permusuhan bahkan perperangan antara suku. Dibalik kekacauan kehidupan mereka, mereka memiliki kelebihan yang pantas dibanggakan. Diantaranya mempunyai ketahanan fisik yang kuat, pemberani, daya ingat yang kuat, kesadaran akan harga diri dan martabat bagi mereka yang terhormat, cinta kebebasan, ramah terhadap tamu, suka menolong, dan mahir dalam bersyair, namun sifat baik mereka seakan-akan tiada artinya bila dibandingkan dengan kejahiliyahan mereka dengan segala keburukan sifat mereka.
2. Audiean Madinah
Berbeda halnya dengan masyarakat makkah yang mana sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, terlebih dahulu telah berkecimpung dan bergaul dengan masyarakat makkah sehingga beliau tahu betul dengan keadaan mereka dari segala sisi. Sedangkan audien rasulullah SAW yang berda di madinah, bukannya Rasulullah SAW yang mengetahui keadaan mereka akan tetapi merekalah yang terlebih dahulu mengetahui siapa dan bagaimana Rasulullah SAW, hal ini mereka ketahui ketika musim haji yang mana mereka sering berkunjung kemakkah disitulah mereka mendapat informasi mengenai diri Rasulullah SAW, disamping itu karena masyarakat madinah banyak yang terdiri dari Ahli Kitab, mereka juga mendapat informasi dari sana tentang akan diutus seorang Nabi akhir zaman yang berasal dari tanah Arab beserta nama dan ciri-cirinya, disamping itu sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, disana telah terjadi perperangan yang lama antara suku awus dengan suku kharaj, penderitaan yang berkepanjangan yang mereka rasakan telah menumbuhkan suatu keinsafan akan ketenangan hidup dan menjalankan agama dengan benar. Kedatangan Rasulullah SAW sebagai juru penyelamat disambut dengan penuh kegembiraan dengan harapan Rasulullah SAW bisa memimpin mereka serta mendamaikan permusuhan yang terjadi disantara mereka. Disamping itu masyarakat madinah dalam sejarah tidak pernah disebutkan keburukannya dan mereka lebih dikenal dengan sebutan kaum Ansyar (penolong).

DAFTAR PUSTAKA
1. H. Mahmud Yunus, Kamus Arab – Indonesia, Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah/Pentafsiran Al-quran. (Jakarta, ….: 1973).
2. Paulus budi Hardjo, Mengenal Teori Kepribadian Mutakhir. (Yogyakarta, Kosisus :1997).
3. Ahmad Mubarak, Psikologi Dakwah. (Jakarta, Pustaka Firdaus : 1999).
4. Moenawar Chalil, Kelengkapan Retorika Nabi Muhamad SAW.(Jakarta, Gema Insani : 2001)
5. Khaidi Khatib Bandaro. Metodologi Dakwah. ( Padang : IAIN Press. 1996)
6. Muhammad Qhutb. Kaifa Matubu Al- tarikhal Islami. Pent : chairul Halin dan Hubbhani Idris. (Jakarta : Gema Insani Press. 1992).
7. Asep Muhyiddin dan Ahmad Safe’I. Metode Pengembangan Dakwah. (Bandung : Pustaka setia. 2002).
8. Maidir Harun dan Firdaus. Sejarah peradapan Islam. ( Padang : IAIN Press: 2001).
9. Asgar El Enginee. Asal-usul dan Perkembangan Islam. (Yogyakarta : Pustaka pelajar. !999) .Pent: Imam Baihaqi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s