KOMPETENSI DAN PROFESIONALISME GURU AGAMA ISLAM

A.     Pendahuluan

Berbicara mengenai kompetensi dan profesinal guru tidak aka terlepas dari tugas dan peranan guru dalam proses belajar mengajar, karena kompetensi dan professional guru merupakan suatu yang sangat diperlukan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab seseorang sebagai seorang  guru.

Masalah kompetensi  professional guru merupakan salah satu dari kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. Kompetensi-kompetensi lainnya adalah kompetensi kepribadian dan kompetensi kemasyarakatan.  Secara teoritis ketiga kompetensi itu dapat dipisah-pisahkan satu sama lainnya, tetapi  secara praktis ketigannya tidak mungkin dipisah-pisahkan. Ketiga kompetensi tersebut saling menjalin secara terpadu dalam diri guru. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan sosial adjustment dalam masyarakat. Ketiga kompetensi tersebut terpadu dalam karekteristik tingkah laku guru.[1]

Membahas kompetensi dan profesionalis guru adalah suatu hal yang tidak asing lagi. Banyak terjadi disana-sini terjadi permasalahan kompetensi dan profesionalis guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Dari itu pemakalah akan membahas tentang kompetensi dan professional guru, khususnya guru agama dilembaga-lembaga pendidikan islam dan umum.

Diharapkan setelah kita membahas hal di atas, kita mampu menjadikan diri kita sebagai calon tenaga pendidik yang berkompetensi dan profesionalis, memahami syarat guru yang berkompetensi dalam bidangnya masing-masing.

B.     Pembahasan

1.      Pengertian Kompetensi.

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia ( WJS.Purwadarminta ) kompetensi berarti ( kewenangan ) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan suatu hal. Pengertian dasar kompetensi adalah ( competenty )  yakni kemampuan atau kecakapan.[2]

Kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung-jawab dan layak.

Istilah kompetensi sebenarnya memiliki banyak makna sebagaimana yang dikemukakan berikut :

  1. Broke and Stone (1975), ia mengemukakan bahwa kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari prilaku guru yang tampak sangat berarti.
  2. Charles E.Johnson (1974), ia mengemukakan kompetensi merupakan prilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan.
  3. Mc. Leod (1989), ia mengatakan kompetensi adalah keadaan berwewenang atau memenuhi syarat untuk menuntut ketentuan hukum.[3]

Dengan gambaran beberapa pendapat dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan kemampuan dan wewenang guru dalam melaksanakan “profesi” keguruannya. Selanjutnya beralih pada istilah “profesional” yang berarti suatu pekerjaan yang bersifat professional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajarai dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Atas dasar pengertian ini, teryata pekerjaan professional berbeda dengan pekerjaan lainnya, karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya

2.      Pengertian Profesionalis.

Sejauh yang sudah kita pahami bersama, tentu masih mengganjal di dalam  benak kita masing-masing, apa seberanya pengertian profesi. Professional, profesionalisasi, profesionalitas, dan profesionalisme merupakan kata yang hamper sama, tatapi pada dasarnya mempunyai makna atau arti yang berbeda-beda. Untuk mengetahui perbedaan itu akan dijelaskan pengertian masing-masingnya.

  1. Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang diperoleh melalui jenjang pendidikan.
  2. Professional adalah keahlian, kemampuan, dalam jabatan atau sifat dari profesi tersebut.
  3. Profesionalitas  adalah sikap anggota profesi terhadap profesinya, yang meliputi keahlian, kecakapan, dalam menjalankan profesinya.
  4. Profesionalisasi adalah usaha untuk mencapai tingkat profesionalitas.
  5. Profesionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa orang yang ahlilah yang bisa dikatakan professional.[4]

Dari penjelasan diatas, jelaslah terlihat perbedaan dari kelima istilah tersebut. Berangkat dari pengerian  professional diatas, maka guru professional itu adalah orang yang memiliki kemampuan, keahlian khusus dalam bidang atau jabatannya, sehingga mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, guru professional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya, ( Agus F. Tamyong, 1987).[5]

Yang maksud terdidik dan terlatih itu bukan hanya memperoleh pendidikan formal, tetapi juga harus menguasai berbagai strategi atau teknik di dalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai landasan-landasan kependidikan seperti yang tercantum dalam kompetensi guru yang akan di jelaskan nantinya.

Setelah kita menjabarkan masing masing pengetian istilah kompetensi dan professional diatas, maka kita menfokuskan pembahsan kita agar lebih komprehenshif, yaitu bagaimana seharusnya kompetensi dan professional yang harus dimiliki seorang guru agama di lembaga-lembaga pendidikan islam dan umum.

3.      Syarat Menjadi Guru Berkompetensi.

Guru adalah orang yang bertanggung jawab atas pendidikan, yang bertugas membekali diri semua murid dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan ketika mereka diserahkan kesekolah. Dengn kepercayaab yang diberikan masyarakat kepada guru, maka dipundak guru diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat. Mengembn tugas memang berat, tetapi lebih berat lagi mengemban tanggung jawab, sebab tanggung jawab guru tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Karena itu tepatlah apa yang dikatakan oleh Drs. N.A. Ametembun, bahwa guru adalah semua orang yang berwewenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal, baik disekolah maupu diluar sekolah.

Islam telah menempatkan guru pada posisi yang terhormat karena ilmunya. Penghormatan tersebut tertulis dlam Al-Qur’an  Surat Al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi :

 “……..Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[6]

Untuk menjadi guru agama yang berkompetensi baik di lembaga pendidikan islam atau umum, Prof.Dr.Zakiah Drajat dkk mengatakan itu tidaklah sembarangan saja,akan tetapi harus memenuhi persyaratan sepeti dibawah ini :

Taqwa kepada Allah SWT.

Guru sesuai dengan tujuan pendidikan Islam, tidak mungkin mendidik anak didik agar bertaqwa kepada Allah sementara ia sendiri tidak bertaqwa kepada-Nya. Sebab guru adalah teladan bagi anak didiknya sebagaimana Rosulallah SAW menjadi teladan bagi umatnya. Selanjutnya guru harus mampu pula memberikan tauladan yang baik bagi anak didiknya. Bila hal itu telah dilaksanakan dengan maksimal, maka sejauh itu pulalah ia diperkirakan akan berhasil dalam menjadikan anak didiknya sebagai muslim yang beriman.

Berilmu.

Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi sebagai bukti bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk menerima suatu jabatan atau tanggung jawab. Idealnya semakin tinggi pendidikan guru, maka hasil pendidikan yang diperolehpun akan semakin tinggi, dan mempu pula melaksanakn tranformasi ilmu dengan baik dalam proses belajar mengajar.

Sehat jasmani.

Kesehatan jasmani kerap kali dijadikan sebagai syarat bagi mereka yang ingin melamar sebagai seorang guru. Apabila roses belajar  mengajar dikendalikan oleh guru yang berpenyakit, maka kegairahan dalam berinteraksi tersebut tidak aka nada.

Berkelakuan baik.

Budi pekerti guru sangat berpengaruh terhadap watak anak didik, guru harus bersifat teladan, karena anak-anak suka meniru. diantara tujuan pendidikan agama adalah membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi peserta didik, dan itu harus pula dimulai dari pendidik.[7]

Di Indonesia untukm menjadi guru diatur dengan beberapa persyaratan, yakni : berijazah, professional, sehat jasmani, dan rohani, bertaqwa kepada Tuhan YME, kepribadian yang luhur, bertanggung jawab dan berjiwa nasional.

4.      Syarat Menjadi Guru yang Profesional.

Selanjutnya membahas tentang keprofesionalan guru agama di lembaga-lembaga pendidikan islam dan umum, dalam melakukan kewenangan profesionalnya, guru  dituntut memiliki seperangkat kemampuan yang beraneka ragam. Mengingat tugas dan tanggung jawab guru yang begiru komleksnya, maka profesi ini memerlukan persyaratan khusus. Dibawah ini akan dipaparkan persyaratan menjadi guru yang professional, yaitu :

  1. Menuntut adanya keterampilan  yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.
  2. Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
  3. Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai.
  4. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarkatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya.
  5. Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamikaaa kehidupan ( Dr. Moh. Ali, 1985 )
  6. Memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksankan tugas dan fungsinya.
  7. Memiliki klien/ objek layanan yang tetap, seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan muridnya.
  8. Diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya dimasyarakat.[8]

Atas dasar itulah, maka jelaslah bahwa jabatan professional harus ditempuh melalui jejang  pendidikan yang khusus mempersiapkan jabatan itu. Demikianpun dengan profesi guru, harus ditempuh melalui jenjang pendidikan. Seperti PGSD,PGTK, IKIP, Fakultas Keguruan diluar lembaga IKIP.

 C.     Penutup

A. Kesimpulan.

  • Untuk menjadi guru agama yang berkompetensi harulah melalui jenjang pendidikan, begitu pula menjadi guru yang professional.
  • Semangkin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka semangkin tinggi pulalah keprofesionalan nya dalam melakukan proses pembelajaran baik disekolah maupun diluar sekolah.
  • Menjadi guru yang professional bukanlah hal yang sembarangan, akan tetapi butuh banyak yang harus dilakukan untuk menggapainya.
  • Kompetensi dan professional yang baik bagi guru agama di lembaga-lembaga pendidikan islam dan umum akan berhasil melakukan tarnformasi ilmu jika dilakukan dengan professional pula.

B. Kritikan dan saran.

Dari tulisan diatas, tentunya kami menyadari sepenuhnya, bahwa makalah ini sangat jauh dari semourna. Maka dari itu diharapkan kritik dan saran demi pembangunan dan perbaikan makalh ini dimasa mendatang.

 D.    Daftar Pustaka.

  1. A. Samana, Profesionalisme Keguruan, ( Yogyakarta : Knisius, 1994 )
  2. Usman Uzer,  Menjadi Guru Profesional, (Bandung : PT.remaja Rosdakarya, 2010 ) Cet.Ke-24, hal 14
  3. Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta : Bumi Aksara, 2002), Cet.Ke-1, hal 8
  4. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta : Bumi Restu, 1997 hal 910
  5. NgalimPurwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, ( Bandung, Remaja Rosdakarya, 1986) hal 57

[1] A. Samana, Profesionalisme Keguruan, ( Yogyakarta : Knisius, 1994 )

[2] Usman Uzer,  Menjadi Guru Profesional, ( Bandung : PT.remaja Rosdakarya, 2010 ) Cet.Ke-24, hal 14

[3] Ibid, hal 15

[4] Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta : Bumi Aksara, 2002), Cet.Ke-1, hal 8

[5] Usman Uzer, Op.Cit. hal 15

[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah, (Jakarta : Bumi Restu, 1997 hal 910

[7] NgalimPurwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, ( Bandung, Remaja Rosdakarya, 1986) hal 57

[8] Oemar Hamalik, Op.Cit. hal 29

One response to “KOMPETENSI DAN PROFESIONALISME GURU AGAMA ISLAM

  1. Mencoba Terus….Semoga Kau Berhasillll>………! Amiin Ya Allah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s