Galeri

Idul Fitri – Hari Kemenangan

Oleh : Charles Mangunsong
Terbit pada Buletin Jum’at Minggu Ke 4 Ramadhan 1430 H/2011. Kp.Surau.Kab. Dharmasraya
Dihari-hari pada minggu akhir bulan ramadhan, dimana-mana kita bersama-sama menyaksikan sebuah fenomena tentang pindahnya kegiatan ummat dari masjid ke pasar, ke terminal, ke stasiun, dan ke bandara. Itulah gambaran ummat sekarang, bahwa lebaran diartikan sebagai mudik, beli baju baru dan makanan-makanan yang serba mewah.
Lebaran tidaklah sama dengan idul fitri. Lebaran adalah sebuah tradisi yang boleh dilakukan oleh siapapun. Berpuasa atau tidak berpuasa, mau beribadah atau tidak mau beribadah semuanya boleh ikut lebaran. Tatapi bukan berarti semua orang bisa merayakan idul fitri. Sebab, setiap sesuatu yang kita kerjakan pasti ada akibat yang akan kita terima.
Sebuah cerita, pada suatu sore ada seorang dokter gigi yang langsung mecabut gigi si pasien tanpa membiusnya terlebih dahulu. Yang terjadi adalah si pasien menjerit sekuat-kuatnya karna kesakitan. Karna mendengar jeritan itu akhirnya tiga orang pasien yang sedang duduk menunggu diruang tunggu jadi takut dan pergi. Setelah selesai, si pasien bertanya biaya pengobatannya kepada dokter, sang dokter langsung menjawab 200.000. si pasien terkejut dan berkata bahwa biaya pengobatan terlalu mahal, karna biasanya hanya 50.000. Sang dokter kemudian berkata. Benar…! Biasanya memang 50.000 , tapi siapa yang suruh anda berteriak, gara-gara anda pasien yang tiga orang lagi jadi kabur.
Pembaca Yang Budiman…!
Cerita ini ingin menyampaikan pesan singkat kepada kita semua, bahwa selalu ada ongkos ( akibat ) dari apa yang kita lakukan. Intinya berpuasa atau tidak berpuasa, beribadah atau tidak beribadah semua yang kita lakukan mempunyai akibat dari apa yang kita lakukan. Seperti si pasien yang harus membayar biaya pengobatan empat kali lipat akibat dia hanya menjerit yang menyebabkan pasien yang lain menjadi pergi semuanya.
Idul Fitri….. Untuk kembali kepada fitrah, kita memperhatikan penggalan ayat 185 dari surat Al-Baqarah berikut ini :
” ..dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.QS.2:185
Dari cuplikan ayat di atas, ada 4 hal yang perlu kita perhatikan.
1. Walitukmilul ‘iddata, “Hendaklah kamu menyempurnakan bilangan puasamu”, ini berarti kita diperintahkan untuk menyempurnakan bilangan puasa sebulan penuh yang berkisar antara 29 dan 30. Ketentuan jumlah hari berpuasa sering terjadi perbedaan, yang akhirnya menyakut kepada jatuhnya 1 syawal, ( Hari Raya Idul Fitri ).
Dalam hal ini nabi berpesan ” Faijagh talakhtum fa’alaikum bissawadil a’zhom ma’al haqqi wa ahlihi” Jika kamu berbeda pendapat, maka ikutlah kepada golongan yang terbanyak, benar dan ahlinya. Teruntuk masyarakat awam, ikut sajalah dengan Depertemen Agama, yang punya ahli Rukyatul hilal dan ahli Hisab dari berbagai ormas islam, yakni MUI, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Al-Wasliyah, dll. Di satu sisi kita juga harus menghormati mereka yang menetapkan 1 Syawal berbeda dengan Departemen Agama. Maka sempurnakanlah jumlah hari bilangan puasamu dalam artian sempurna melaksanakan puasa satu bulan penuh dan sempurna semangat juang puasa walaupun ramadhan telah berlalu.
2. Walitukabbirullaha, Hendaklah kamu mengagungkan Allah ” Tuntutan yang kedua setelah perintah menyempurnakan bilangan puasa adalah mengangungkan Allah. Yaitu Takbiran dimalam idul firti, yang bisa dilakukan di rumah, di masjid, sendiri, beramai-ramai, dan berpawai keliling Nagari, dengan syarat harus tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas. Terutama di kota-kota. Prakteknya yang terjadi adalah sering terjadi perang mercun, tembak-tembakan oleh anak-anak, bahkan membuat arus lalu lintas menjadi macet.
Pembaca Yang Budiman…!
Perintah yang kedua ini adalah mengangungkan Allah, dengan kalimat takbir, tahmid, tahlil dan tasbih di malam Idul Fitri. Hendaklah kita jadikan ini menjadi motivasi besar dalam kehidupan kita. Seperti Bung Tomo pelaku sejarah, tokoh 10 November pernah berkata, ” Andaikata tidak ada kalimat takbir, saya tidak tau bagaiamana menggerakan putra-putri terbaik bangsa untuk bangkit melawan penjajah” Ketika kalimat Allahu Akbar berkumandang, semangat juang terus menggelora, dan musuh terasa kecil.
Kita simak kalimat takbir, Laa ilaaha illallahu wahda. “Tiada Tuhan selain Allah, Dia Esa”. Shodaqo Wa’dah “Maha Menepati janji-Nya”. Wanashoro ‘Abdah ” Maha menolong Hamba-Nya” Disinilah melonjaknya semangat berjuang kita dengan berkeyakinan kepada Allah, bahwa Allah maha menolong hamba-Nya, dengan menepati janji-janji-Nya. Puasa sebulan penuh kita berhasil melaluinya, semua itu adalah berkat pertolongan Allah kepada kita untuk mengahdapi musuh yang terbesar dan tidak tampak oleh mata, yaitu nafsu. Kalau musuh tampak didepan mata seperti perang Badar yang terjadi pada jaman nabi, perang itu adalah perang yang kecil dan belum seberapa dibanding perang yang akan kita hadapi nanti, kata nabi, yaitu perang melawan hawa nafsu.
Dibulan puasa melawan hawa nafsu bukan berarti menghilangkan nafsu, akan tetapi kita diperintahkan mengendalikan, menempatkan pada tempatnya. Jika manusia tanpa nafsu maka dia bukan manusia, tapi manusia yang di kendalikan oleh nafsu, maka ia turun jadi binatang dan bahkan lebih rendah dari binatang. Logikanya, tidak ada kerbau yang terlalu buas hawa nafsunya lalu berubah dari pemakan rumput menjadi pemakan roti, tetapi jika manusia terlalu buas dan dikendalikan oleh hawa nafsunya maka yang dimakanya bukan hanya nasi saja, melainkan ” Aspal, Semen, Kertas dan Minumnya Solar “. Maka demikian jauh lebih buas daripada binatang. Itulah puasa, mengendalikan hawa nafsu dari yang berlebihan.
Pembaca Yang Budiman..!
3. Maa Hadaakum ” Yang telah memberikah Hidayahnya kepadamu” Hidayah yang hanya hak priogratif Allah. Tidak semua orang diberikan hidayah oleh Allah, kita perhatikan dalam sejarah para nabi, anak nabi Nuh, Istri nabi Luth, ayah nabi Ibrahim, paman Nabi Muhammad Abu Lahab, Abu Jahal. Dan masih banyak contoh-contoh lainya yang mereka tidak diberi hidayah oleh Allah. maka sudah wajib kita syukuri akan nikmat hidayah yang diberikan Allah kepada kita, yang kita bukan anak nabi, cucu nabi, apa lagi kemanakan nabi.
Kita ingat kembali sejarah Kan’an anak nabi Nuh, yang durhaka, Nabi Nuh sendiri hidup 950 tahun, berdakwah semasa hidupnya sampai 800 tahun lamanya, akan tetapi pengikutnya hanya 80 orang, yang rata-rata 10 tahun hanya mendapat satu pengikut. Begitulah perjuangan Nabi Nuh untuk memperjuangkan ummatnya. Namun disuatu hari Nuh mengadu kepada Allah bahwa Ia sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan da’wahnya dan memohon agar diturunkan adzab kepada kaumnya yang ingkar. Maka Allah memerintahkan kepada Nuh untuk membuat kapal. Demikianpun terus Nuh semakin mendapat ejekan dan cemohan dari kaumnya dan mengatakan bahwa Nuh sudah gila. Setelah selesai kapal yang buat oleh Nuh, maka Allah memerintahkan Nuh untuk membawa pengikutnya dan sepasang serba sepasang binatang. Kemudian Allah tenggelamkan bumi hingga Kan’an lenyap ditelan banjir. Hidayah Allah tidak turun kepadanya serta pengiktunya. Maka syukurilah nikmat hidayah yg diberikan Allah kepada kita.
4. Wala’allakum Tasykurun ” Supaya kamu bersyukur “. Dengan menyempurnakan bilangan puasa, mengagungkan nama Allah ( Takbiran ), diberi-Nya kita Hidayah. Semua ini diperintahkan Allah dan diberikan kepada kita adalah denga tujuan kita menjadi orang-orang yang menang, beruntung, dan agar kita bersyukur atas semuanya. Mensyukuri nikmat Allah adalah kewajiban kita, sebab dengan bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya kepada kita, dan jika kita ingkar, kufur atas nikmat Allah, maka adzab Allah lah yang ada pada diri kita. Na’udzubillah tsumma na’udzubillahi min dzalik…
Orang kaya bisa masuk surga karna hartanya, akan tetapi orang kaya juga bisa masuk neraka karna hartanya. Tergantung syukur atau tidak syukur. Pejabat bisa masuk surga karna jabatanya, akan tetapi pejabat bisa masuk neraka karna jabatanya. Tergantung syukur atau tidak syukurnya. Begitu juga seorang ‘Alim, bisa masuk surga karna ilmunya, akan tetapi seorang ‘alim bisa masuk neraka karna ilmunya. Tergantung syukur atau tidak syukurnya dia dalam mengimplemtasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kehidupan bermasyarakat.
Maka sambutlah hari kemenangan ( Idul Fitri ) itu denga hati yang gembira, seraya bersyukur kepada Allah, semoga kita menjadi orang-orang yang pandai bersyukur. amiin Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s